Wednesday, 7 August 2013

Mengenang Moeng Parhadimuljo mantan komandan RPKAD pelopor loreng khusus "darah mengalir"

foto : itjen.deptan.go.id
Kolonel Moeng Parhadimuljo, Komandan RPKAD, yang pernah dianggap terlalu keras. Tetapi kemampuan Moeng sebagai prajurit Komando, tidak diragukan lagi. Salah satu contoh ialah ketika Moeng melakukan inspeksi ke pendidikan siswa Komando di bukit 48, Citatah Bandung, Komandan ke-4 pasukan baret merah itu menunjukkan kemampuannya di bidang survival. Dalam latihan menangkap ular berhasil ditangkap seekor ular sanca. Setelah dikuliti, di dalam perutnya terdapat sekitar 20 telur ular berbentuk mirip batang rokok berderet memanjang, dengan balutan lemak tebal. Moeng mengambil 5 telur ular yang diuntai dengan lemak, kemudian ia langsung menelannya mentah-mentah dalam sekejap. Setelah itu ia mengambil untaian telur ular dan menawarkan pada siswa komando dan instruktur agar melakukan hal serupa.

Kisah lain, sopir Moeng yang kemudian menjadi sopir Kolonel Sarwo Edie Wibowo, pernah menceritakan pengalamannya mengemudikan mobil Moeng, dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya tahun 1963. Dalam perjalanan yang memakan waktu lebih dari 24 jam akibat jalan rusak parah, Moeng hanya berbekal satu velples (tempat minuman air) air putih. Perjalanan dilakukannya tanpa berhenti tanpa makan atau minum. Di pompa bensin Angkatan darat Tegal, Semarang, dan Madiun, sopir Pak Moeng yang tidak membawa velples, selalu minta izin ke toilet. Tetapi tujuan sebenarnya ialah menggunakan kesempatan itu untuk minum air kran di toilet.

Komandan ke-4 Resimen Para Komando TNI-AD (RPKAD), Mayjen (Purn) Moeng Parhadi Mulyo wafat dalam perawatan di RSPAD, Jumat (28/12/2012) pukul 22.30. Mendiang akan dimakamkan di Yogyakarta, Minggu (30/12/2012).

Pejabat Penerangan Kopassus, Mayor Infantri Achmad Munir mengatakan, almahum disemayamkan di rumah duka di Jalan Perikani 1 Nomor 11, Rawamangun, Jakarta Timur.

Menurut Achmad, Moeng Parhadi Mulyo (87) pernah menjabat sebagai Komandan RPKAD dengan pangkat letnan kolonel, yang pelantikkannya berlangsung di Manado pada 3 Agustus 1958. Moeng saat itu langsung terjun ke mendan operasi memimpin RTP 1 untuk Merebut Kota Tondano.

Dalam masa kepemimpinan itu terjadi perubahan baret prajurit dari warna coklat (seperti baret artileri) menjadi warna merah. Pada masanya juga, diciptakan pakaian pakaian dinas lapangan (PDL) loreng khusus "darah mengalir", mengantikan seragam PDL loreng lama yang digunakan prajurit para komando. RPKAD sekarang adalah Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI-AD.

Pada tahun 1964 prajurit Baret Merah yang tergabung dalam Ekspedisi Cenderawasih menorehkan catatan penting dengan keberhasilan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Puncak Soekarno, puncak gunung tertinggi di pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya (Papua), pada 1 Maret 1964. Bermula dari keberhasilan itu, keterampilan mountaineering dijadikan sebagai salah satu materi pembekalan dalam kurikulum pendidikan komando di Pusdik Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

Menurut rencana jenazah besok akan diberangkatan ke Yogyakarta untuk dimakamkan. Mayjen Purn Moeng Parhadi Mulyo kelahiran Yogyakarta pada 11 Januari 1925. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 6 orang anak.

Sumber :
www.kompas.com
www.kaskus.co.id

No comments:

Post a Comment

Post a Comment